Cantiknya Tas Kulit Karya Pengusaha SME Indonesia

Cantiknya Tas Kulit Karya Pengusaha SME Indonesia

235

SMEIndonesia.org – Tas kulit ular dari Indonesia semakin marak di jual oleh berbagai Pengusaha( Small Medium Enterprise ) SME dengan kualitas hand made. Keindahan sebuah produk berawal dari kisah yang dimilikinya.

Kisah tentang bahan yang berkualitas, diolah oleh para pengrajin dan seniman dengan kemampuan terbaiknya. Kisah tentang kekayaan lokal, kisah tentang kesempurnaan dalam kualitas. Indonesia memiliki banyak keindahan terpendam, dan banyak kisah yang menunggu untuk diungkap.

Dibuat di Banten, memiliki sertifikasi dari Pemerintah sebagai bisnis kriya lokal yang absah, bertanggung jawab dan berkelanjutan. Terkenal di pasar nasional dan internasional, tas kulit Sanca berkualitas tinggi ini bersifat kuat, tahan lama, serta tahan air. Perkenalkan Tas Tote Kulit Sanca rose Red Mona.

Tas bahu yang simple adalah salah satu tas yang sangat terkenal dan disukai sepanjang masa. Siluet tas Mona yang bersih dan minimalis memberikan sebuah tas yang elegan dan serbaguna. Warna rose red Mona dengan pola kulit sanca memberi kontras yang khas namun lembut. Detil tali rumbai memberikan aksen yang manis pada siluet tas. Interior tas yang luas membuat tas mona ideal untuk belanja, rekreasi dan bahkan kegiatan akhir pekan kasual.

Tas bahu kulit Sanca rose red Mona ini adalah item yang sangat cocok untuk para wanita modern yang sibuk. Kualitas dan pengaryaan tingkat tinggi membuat tas ini tahan lama, dan menjadi tas kesayangan anda untuk semua kegiatan kasual. Manjakan diri anda dengan item klasik dan menawan bersama tas tote kulit karya Indonesia ini.

Menjalani bisnis di bidang kuliner atau jasa itu sudah biasa. Tetapi bagaimana bila mengolah kulit ular dan buaya menjadi produk fashion bernilai puluhan juta? itu pasti luar biasa.

Faktanya, fenomena ini dilakukan oleh beberapa pengusaha SME yang ada di Indonesia. Meskipun ada yang menilai sangat mengerikan, tetapi karya dari produk fashion yang mereka hasilkan diapresiasi bahkan dihargai hingga puluhan juta.

Mengenai kulit ular dan buaya yang digunakan sebagai bahan baku juga tidak sembarangan. Mereka telah mengantongi izin dan memiliki sertifikat khusus dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Jadi singkatnya kulit ular dan buaya yang digunakan adalah legal.

Kemudian selain dicintai oleh para penikmat fashion lokal, produk berbahan dasar kulit ular dan buaya asal Indonesia juga telah diekspor ke berbagai negara. Dari mulai Benua Asia, Australia, Eropa hingga Amerika. Tentunya hal ini sangat menguntungkan Negara Indonesia karena menghasilkan banyak devisa.

Mau tau siapa saja mereka dan produk fashion apa saja yang mereka hasilkan? Berikut ini sekilas informasinya.

1.Pardianto Pemilik Toko Argo Boyo

Kisah pertama datang dari salah satu pengusaha asal Papua bernama Pardianto (51). Dia adalah salah satu pengusaha sukses dengan hasil produk kerajinan tangan berbahan dasar kulit buaya.

Pardianto kemudian mendirikan Toko Argo Boyo di Timika, Papua di tahun 2000. Tokonya menjual berbagai macam jenis souvenir khas Papua berbahan dasar kulit buaya.

Dengan dibantu oleh 5 orang karyawan, ia berhasil menghasilkan berbagai macam jenis souvenir kulit buaya dengan motif yang unik sebut saja tas golf, tas wanita, sabuk, trolley bag, dompet hingga tas komando untuk keperluan militer tentara.

“Ya karena motif buaya itu, kulitnya  menonjol atau timbul jadi orang senang dengan motifnya. berbagai macam motif, ada motif punggung, kepala, ekor dan kaki, sehingga terlihat unik. Itulah alasan mengapa banyak peminatnya,” kata Pardianto.

Mengenai kulit buaya yang digunakan, Pardianto mendapatkan dari masyarakat asli Papua seperti Suku Kamoro, Suku Amungme. Namun sebelumnya, Pardianto telah berkonsultasi dan mendapat izin dari BKSDA.

Kulit buaya yang didapat Pardianto berasal dari masyarakat sekitar. Ia memberikan harga kulit buaya sebesar Rp 30.000 per inci. Seekor buaya ukuran besar bisa mencapai 20 inci kulit dan dalam 1-3 hari bisa mendapat pasokan sekitar 200 inci. Kulit mentah itu berbentuk kasar, bersisik hitam, dan masih banyak daging yang menempel.

Kulit buaya mentah lantas disamak atau dihaluskan dengan cara manual tanpa bantuan mesin modern. Cara ini dilakukan agar kulit buaya menjadi halus dan layak pakai. Hasilnya produk Pardianto berharga dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Harga sebuah dompet dan ikat pinggang berkisar Rp 300.000, sepatu Rp 1,8 juta-Rp 2 juta, dan tas wanita Rp 2 juta-Rp 2,5 juta. Dari ketiga barang tersebut Pardianto mengakui, tas wanita dan dompetlah yang paling laku di pasaran.

Sementara itu, pembeli produk Pardianto tidak hanya terbatas di Papua saja. Pembeli juga datang dari Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi. Tidak hanya sebatas dari masyarakat lokal, pembeli produk buatan Pardianto juga berasal dari mancanegara Jerman, Norwegia, Jepang dan Australia. Dengan begitu, setiap bulan Pardinto berhasil meraup omzet hingga Rp 400 juta.

2.Yeni Setiowati Pemilik Dania Handycraft

Kisah pengusaha selanjutnya datang dari Yeni Setiowati (41). Wanita kelahiran Pati, 13 Desember 1975 itu mampu mengolah kulit ular dan reptil menjadi produk fashion berkelas seperti tas dan sepatu yang memiliki nilai jual tinggi.

Melalui brand Dania Handycraft, Yeni memulai usahanya ini sejak tahun 2009. Bisnisnya terus berkembang dengan angka permintaan yang semakin bertambah setiap tahunnya. Kemudian tas dan sepatu kulit ular dan reptil juga telah masuk pasar ekspor, seperti ke Jepang hingga ke Amerika Serikat.

Yeni Setiowati mengaku punya alasan kuat mengapa dirinya mengambil dan menekuni bisnis fashion dengan bahan kulit ular dan reptil. Menurut Yeni menggunakan kulit ular dan reptil akan memberikan kesan ‘beda’ dan lebih eksklusif bila dibandingkan dengan kulit sapi.

Yeni mengungkap bila ia mendapat pasokan kulit mentah ular dan reptil dari pengepul asal Pulau Sumatera yang telah mengantongi izin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Kulit tersebut kemudian ia beli dengan harga beragam bergantung panjang, lebar serta kualitas kulit ular atau reptile tersebut.

“Kita ambil kulitnya itu dari tempat yang legal. Untuk ularnya  diambil dari hutan. Tapi mereka memilki kuota pengambilan jadi diawasi oleh BKSDA setempat. Misalkan dia dalam satu bulan sudah mengambil 100 ular kalau sudah mengambil segitu dia tidak boleh mengambil lagi jadi setiap bulannya memang ada ketentutan kuota,” kata Yeni.

Kulit mentah tersebut kemudian harus melalui proses penyamakan. Kulit hasil proses penyamakan lalu dikeringkan hingga menjadi lembaran kulit yang siap diolah menjadi produk fashion seperti tas, sepatu, ikat pinggang. tali jam, gantungan kunci, jaket, hingga hiasan interior.

Selain memiliki kesan ‘beda’ dengan kulit sapi, penggunaan kulit ular dan reptil sebagai bahan baku pembuatan produk fashion seperti tas dan sepatu juga memiliki nilai tambah lainnya, sehingga harga jual bisa tinggi .

“Kalau untuk tas dari harga Rp 1 juta hingga Rp 3 juta. Yang membuat mahal itu kulit ular yang sisisknya sudah tua dan panjangnya 6 meter ke atas. Sepatu harganya dari Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Sedangkan dompet dari harga Rp 100 ribu sampai Rp 400 ribu,” sebut Yeni.

Yeni menjelaskan tas dan sepatu kulit ular dan reptil sudah masuk ke pasar internasional seperti pasar Jepang hingga Amerika Serikat. Namun menurutnya, pangsa pasar ekspor terbesar masih didominasi pasar Asia yang mencakup negara Singapura, Jepang, Korea Selatan dan Hongkong.

Dengan memiliki pasar tetap di dalam dan di luar negeri, omzet yang didapat Yeni mencapai puluhan juta per bulannya. Sayangnya besaran omzet itu dianggap Yeni belum begitu besar karena terbatasnya suplai bahan baku kulit ular dan reptil.

“Sehingga omzet yang didapat pun tidak besar. Paling Rp 20-30 jutaan per bulan,” tutupnya.

3.Etnawati Melani Pemilik Tegep Boots

Kisah terakhir datang dari Etnawati Melani (38). Dia adalah pebisnis sepatu lokal asal Bandung yang menikmati berkah dari tingginya permintaan sepatu di dalam negeri melalui brand Tegep Boots.

Sejatinya, Tegep Boots dibangun oleh sang suami Tegep Octaviansyah (43) di tahun 1998. Tegep awalnya membangun bisnis sepatu boots dengan brand Clapman di tahun 1996.Tegep yang merupakan lulusan desain produk Institut Teknologi Bandung (ITB) mampu membuat sepatu boots yang unik dan berkualitas. Karyanya mampu menembus pasar internasional yaitu ke Australia, Amerika hingga Jerman.

Namun sayang, saat Tegep ingin memperluas pasar dan memproduksi sepatu boots yang lebih berkualitas, ia harus menghadap Yang Maha Kuasa di bulan Februari 2016. Kini tongkat estafet Tegep Boots dilanjutkan oleh sang istri, Etnawati Melani (38).

Tegep Boots mulai mencuri perhatian masyarakat kota Bandung karena sepatu boots memiliki kualitas berkelas premium dengan bahan baku kulit sapi asli.

Selain dari kulit sapi dan domba, ada beberapa jenis sepatu Tegep Boots yang terbuat dari kulit buaya. Tentunya bahan baku tersebut didapat dengan proses yang legal dan sesuai dengan rekomendasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat.

image002“Tapi kita dengan bahan yang resmi ya nggak ilegal. Mau ke luar negeri, ke negera-negara tertentu mereka tidak akan merasa khawatir karena ada sertifikat,” tuturnya.

Sayangnya bagi Anda yang menginginkan Tegep Boots berbahan dasar kulit buaya harus mengeluarkan kocek cukup dalam. Etnawati mematok harga hingga Rp 20 juta per pasang bagi Tegep Boots berbahan dasar kulit buaya. Sedangkan yang menggunakan kulit sapi dan domba rata-rata harganya hanya Rp 2-3 juta per pasang.

image003“Yang paling mahal itu bahan bakunya dibuat dari eksotic skin, seperti buaya,” sebutnya.

Selain memproduksi sepatu boots, Tegep Boots juga sudah melebarkan sayap bisnisnya dengan memproduksi tas, dompet, jok motor hingga postman bag. Kini produk Tegep Boots dapat Anda temukan di Bali, Surabaya, Bandung dan Jakarta.

“Dan ke depannya Tegep Boots juga akan mengolah kulit buaya sendiri semacam membuat penangkaran buaya,” katanya.

Keunggulan lain dari Tegep Boots adalah seluruh proses pengerjaan mulai dari pelaseran, embossed (pemberian pewarna), hingga sewing (penjahitan) dilakukan dengan menggunakan tangan tanpa mesin (handmade). Oleh karena itu menurut Etnawati proses pengerjaan cukup lama dan diperlukan ketelitian ekstra.

image005“Kelebihan kita kita itu bisa custom design dan, home made, handmade dan ada ukuran kaki, jadi sepatu itu disesuaikan dengan anatomi kaki si pemesan agar pas dipakai dan merasa nyaman. Selain itu produk kita selalu membuat produk limited edition. Jadi orang mau bayar mahal karena kualitas. Makanya kita bilang kan Tegep Boots itu custom madehandmade dan high quality agar dinilai berbeda dan membuat orang puas,” tegasnya.

image007Dengan potensi pasar yang cukup besar, saat ini Etnawati mampu mengantongi omzet hingga ratusan juta rupiah per bulannya. Omzet tersebut didapat tidak hanya dari penjualan sepatu boots buatannya tetapi juga produk fashion lainnya seperti tas, dompet hingga jok motor klasik. Tidak hanya itu, sepatu Tegep Boots juga sudah berhasil diekspor ke berbagai negara seperti Australia, Jerman, Amerika plus Hongkong.

“Kalau normal itu (omzet) bisa Rp 400-500 juta,” sebutnya.

Comments

comments