Kisah Dibalik Sukses Sababay

Kisah Dibalik Sukses Sababay

756
sababay wine

SMEIndonesia.org – Nama Sababay berasal dari lokasi di mana kilang anggur ini berada, yaitu Teluk Saba (Saba Bay) berada di wilayah Gianyar, Bali. Brand ini  100% produksi lokal, dari para pekerja dan pemiliknya berasal dari Indonesia. Brand Wine ini telah beberapa kali meraih penghargaan International di ajang  AWC Vienna Wine challenge. AWC  Vienna merupakan kompetisi wine terbesar di dunia dengan jumlah peserta sebanyak 1800 wine producer dari 40 negara-negara di dunia.

Duaproduk Sababay yaitu White Velvet dan Moscato d’Bali meraih medali perak sementara Sababay Reserve Red mendapatkan Seal of Approval. Sebelumnya Sababay Moscato d’Bali telah memenangkan penghargaan perak dari Singapore Wine & Spirits Awards 2014, dan  menyabet tiga medali di ajang CWSA 2015 (Cina Wine & Spirits Awards). Selain China, Japan Wine Challange 2015 juga menganugerahi Seal of Approval untuk Ludisia serta Moscato d’bali. Selanjutnya, Sababay White Velvet juga meraih medali perunggu di Korean Wine Challenge baru-baru ini (KWC).

“Hal ini mematahkan persepsi bahwa Indonesia tidak dapat memproduksi wine berkualitas. Penghargaan-demi penghargaan juga menempatkan Indonesia di peta penghasil wine berkualitas dunia. Dia mengatakan tanaman anggur dapat tumbuh dengan baik di Indonesia dengan iklim yang cenderung kering dengan suhu udara malam hari yang cukup dingin. “Dengan pemilihan lokasi serta varietas anggur yang tepat, budidaya anggur di Indonesia dapat memberikan hasil yang sangat memuaskan bagi petani anggur dan produsen wine local”.

PT Sababay Industry didirikan Mulyati Gozali tahun 2010 terbukti tidak sekadar membangun bisnis, tetapi juga mengembangkan misi agar petani dapat hidup layak dan mendapatkan hasil yang adil. Sababay  mendapatkan suplai anggur untuk produksi wine dari petani lokal di Buleleng, Bali.Dengan menggagas konsep corporate farming, Sababay melakuan kemitraan dengan petaniuntuk penjualan anggur secara eksklusif dengan harga yang wajar.

Sistem ini menciptakan siklus produksi dan panen yang berkelanjutan dan mutu hasil panen yang stabil. Kolaborasi dari sistem kendali suhu yang canggih serta teknik irigasi lahan yang baik dan seleksi rootstock yang lebih seksama memungkinkan Sababay Winery untuk mengubah anggur mencapai nilai jual tertingginya.

Selama beberapa tahun terakhir, kawasan Utara Bali telah berkembang menjadi pusat perkebunan anggur dan produksi wine. Diluncurkannya rangkaian wine New Latitude menjadi konfirmasi akan kecocokan dan potensi dari budidaya anggur Alphonse Lavallée di kawasan tropis ini.

Putri Mulyati Gozali yaitu Evy Gozali, CEO Sababay mengungkapkan, potensi pertumbuhan produksi wine di Asia, khususnya di Bali, merupakan satu contoh yang sangat baik dari kegiatan ekonomi kreatif untuk memberikan nilai tambah atas produk perkebunan anggur. “Untuk itu, kami bertekad menjadi ujung tombak dari konsep ‘Pertanian Terpadu’ yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani anggur lokal.” ujarnya.

Evy menambahkan bahwa Sababay memiliki visi untuk menjadi winery lokal dengan manajemen profesional terbaik dan berkelanjutan serta terbaik di kawasan Asia Tenggara, serta memaksimalkan potensi pertanian dan perkebunan di Indonesia melalui transfer teknologi pembuatan wine serta penerapan prinsip-prinsip perdagangan yang adil dan konsep pertanian terpadu. Evy juga menekankan bahwa salah satu filosofi penting yang diterapkan di Sababay  adalah pemeliharaan alam dan lingkungan.

Sebagai produsen wine berteknologi tinggi, Sababay mengoperasikan fasilitas produksi seluas lebih dari 2 hektar yang dilengkapi dengan peralatan pengolahan anggur tercanggih yang didatangkan langsung dari Perancis.

Fasilitas produksi Sababay menerapkan standar internasional dengan peralatan fermentasi dan tangki penyimpanan terbuat dari stainless steel sementara sistem pembotolan otomatis langsung didatangkan dari Italia. Pabrik ini juga dilengkapi dengan sistem penyimpanan suhu dingin untuk produk jadi, laboratorium kendali mutu, sistem pengelolaan limbah padat dan cair yang berkelanjutan, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Asalnya petani anggur di Buleleng hidup dalam kemiskinan dari generasi ke generasi. Sebagian bahkan berpendapatan 1 jutaan per tahun. Penyakit pada tanaman, gagal panen, dan tiadanya teknik pemasaran, membuat mereka terlilit  utang dengan tengkulak, pihak penentu harga dan penyalur anggur ke produsen raksasa.

Pada saat itu Petani pesimis ketika Evy Gozali, pemilik Sababay Winery, mengulurkan tangannya. Ia lalu berinvestasi pada pembangunan research and development untuk winery seluas 2 hektare. Memiliki kesempatan menekuni bisnis besar lainnya, Evy justru menggandeng tangan dengan sang ibu yang ingin menghabiskan masa pensiunnya untuk kepentingan hidup petani.

Sababay menembus rak bergengsi tempat makan yang hip maupun eksklusif. Evy menjadi inspirasi bagi anak muda bahwa bisnis agrikultur Indonesia ternyata bisa sukses di tangan orang Indonesia.

Apakah bisnis ini  didasari oleh kesukaan terhadap wine? Ternyata Justru tidak. Dulu saya hanya minum wine kala tahun baru. Di pesawat yang memiliki menu wine pun, saya tak pernah mintawine. Menuju masa  pensiun pada tahun 2009, ibu saya, Mulyati Gozali, mencari bentuk bisnis yang bisa membantu banyak lapisan masyarakat, memaksimalkan konten lokal, memiliki multiplier effect. Saya terketuk dengan misi ini, dan ingin meneruskan talentanya.

Awalnya kami sempat berpikir ingin membangun hotel di Bali, namun ragu karena tidak berlatar belakang pariwisata, dan area bisnisnya kompetitif serta break event point-nya lama. Ketika sisi Bali Barat terhubung melalui jalan layang, mata terbuka dengan daerah Buleleng yang tak pernah saya jamah. Saya melihat kebun-kebun para petani dengan anggur bergelantungan di musim panen, berjuntaian tak terurus. Rasanya pun asam. Ketika bercakap-cakap, para petani mengatakan bahwa  anggur dan jagung misalnya, ditanam karena tak ada pilihan. Tanah yang kering tak bersahabat dengan padi.

Petani bergantung pada tengkulak karena tak punya cold storage dan transportasi. Ketika menurunkan 12 periset IPB di kebun untuk meraih data riil, beberapa petani masih berpendapatan 1 jutaan rupiah per tahun. Mereka hanya bisa memakan apa yang ditanam di kebun, tidak punya kakus, dan tak ada uang untuk menyekolahkan anak. Saya tercengang, perkebunan semacam ini masih ditemui di pulau yang katanya favorit dunia. Petani sempat tak percaya mengapa kita yang jauh-jauh dari Jakarta mau membantu mereka. Mereka pesimistis karena kondisi ini sudah berjalan begitu lama.

Evy Gozali menceritakan, I was a big city girl, dan bukan orang kebun. Namun, ibu saya  punya pengalaman bekerja dengan pola besar, jago analisis, dan terbiasa berurusan dengan petani. Jika ia mau menjalani ini, berarti future-nya memang ada. Target ibu saya, membawa wine Indonesia ke dunia luar, dan saya tahu ia tak mungkin berjalan sendiri.

Tantangannya kita menyadari kita bukan orang Bali, tapi kalau mau membantu,  jangan takut. Tantangan lainnya juga human management, yakni petani yang sulit diajak kerja sama. Yang tidak mau mengikuti peraturan standar kami, didiskualifikasi. Wine produksi kami menjalani natural fermentation selama 7 minggu, berbeda dengan wine distilasi yang diberi alkohol dan jadi dalam seminggu. Berbeda dengan peraturan di luar negeri yang mengharuskan setidaknya 75% anggurnya adalah petikan lokal, wine di Bali bisa saja hanya diproses dan dibotolkan di Bali, tapi masih bisa dibuat dari anggur impor. Wine kami bahkan 100% dari anggur lokal.

Kami membangun 2 hektare winery di Gianyar. Winemaker Prancis, Vincent Desplat, yang memiliki 20 tahun pengalaman, yang membuat wine di daerah New Latitude ini. Winery kami satu-satunya yang semaju ini di Indonesia. Jaraknya 3 km dari kebun di Buleleng, dekat Teluk Saba, Iklimnya baik untuk anggur, yakni panas di siang hari dan cukup sejuk kala malam. Kami membina 80 hektare kebun milik 180 kepala keluarga petani di Desa Gerogak, Banjar, dan Seririt.

Dulu ada satu perusahaan wine lokal, tapi tentunya tidak mampu menyerap produksi dari 1.000 hektare kebun yang ada. Jadi, kesempatannya luas. Apalagi wine lokal baru memenuhi sekitar 5% dari kebutuhan wine di Indonesia, sisanya diimpor.

Walau tren kuliner lokal sudah naik daun,namun  masih ada orang Indonesia yang gengsi minum wine negeri sendiri. Maka kiatnya harus mengejar pengakuan dari kompetisi luar negeri. Total penghargaan Sababay sudah ada sembilan. Sebelum bergabung dengan Sababay, ahli wine Yohan Handoyo, sempat shock ketika mengetahui salah satu pemenang wine  yangdinilai secara blind-tasting adalah Brand Sababay dari Indonesia.

Produk bagus belum tentu marketing-nya lancar. Saya sempat berdoa untuk dicarikan Tuhan tim marketing yang cocok, karena enggak mungkin saya jualan sendiri. Akhirnya Astrid Suryatenggara bergabung dan melakukan pemasaran yang gesit. Kini, produksi kami kejar-kejaran dengan permintaan pasar. Kami ingin membina lahan yang lebih luas, namun data agrikulturnya tidak pernah ada. Sehingga kami harus mengumpulkan dana untuk memulai riset.

Keadaan petani di 2 tahun awal membuat anak-anak mereka sudah bisa sekolah. Ada petani yang sudah bisa membeli 7 sapi dan menjualnya kembali. Rumah juga sudah kokoh dari beton. Senang bisa melihat jerih payahnya bisa memberi dampak terhadap  hidup seseorang dalam waktu yang tidak lama. Analisis ibu saya benar, winememiliki highest added value, ketimbang mengolahnya menjadi jus seharga Rp30.000-an dengan persaingan tinggi. Petani dimotivasi dengan menonton video petani anggur di Asia Tenggara dan diajak ke pameran, serta piknik keluarga. Membangun Family culture penting dalam bisnis yang ingin bertahan lama.

Tantangan menjual wine, kami percaya Tuhan tidak tidur, dan pasti memberi jalan bagi yang berniat baik. Kalau sedang capek menunggu kapan Sababay bisa menjadi suvenir favorit Indonesia, saya mengingatkan diri bahwa tiada sukses yang instan. Saya menyebutnya ‘experiencing passion’. Pekerjaan seperti ini, yang profit-nya belum bisa kelihatan, tak bisa dikerjakan kalau bukan dengan hati.

Seperti kisah Putu Subrata (39) wajahnya berseri. Tangannya menyisihkan daun yang menutupi bulir anggur hijau. ”Usianya sudah 80 hari. Dipanen biasanya pada usia 100 sampai 110 hari,” kata Putu, sapaan Putu Subrata, saat bersua di kebun anggurnya pada Minggu

Putu adalah petani anggur generasi kedua di Desa Gerokgak, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, sekitar 125 kilometer arah barat laut Kota Denpasar, Bali. Ayahnya juga petani anggur. Jikalau dahulu mereka menanam anggur alphonso yang berwarna ungu kehitaman, ia kini menanam anggur muscat yang berwarna hijau terang.

Anggur alphonso menjadi kebanggaan petani di Buleleng sejak akhir 1980-an. Bahkan anggur ungu kehitaman itu sampai dikenal sebagai anggur buleleng. Kebun anggur menyebar di sisi kiri dan kanan sepanjang ruas jalan Seririt-Gilimanuk itu. Namun, kejayaan anggur khas Buleleng itu hanya bertahan hingga tahun 2000-an.

Putu menuturkan, mereka pernah menanam anggur alphonso di kebun seluas 6 hektar. ”Petani menanam anggur dengan harapan bisa memiliki sapi yang banyak,” ujarnya.

”Namun, kenyataannya, kebun anggur yang memakan sapi kami. Sapi milik petani anggur habis terjual untuk mempertahankan kebun anggurnya,” lanjutnya.

Ketika produksi anggur berlimpah, harga anggur merosot. Harga anggur di Buleleng, menurut Putu, pernah menyentuh Rp 150 per kilogram.

Selain harga yang rendah, petani juga terlilit utang kepada tengkulak atau pengijon demi kebun anggur mereka itu. Lambat laun kebun anggur di Buleleng menghilang. Petani kembali membuka sawah dan menanam padi atau tanaman palawija lain.

Putu dan keluarganya masih mempertahankan beberapa bidang kebun anggur. Sejak 2010, Putu mengganti varietas anggur di kebunnya dari anggur alphonso menjadi anggur muscat. Lahan kebun seluas 1,3 hektar yang dikelola Putu bersama kakaknya, Ketut Semara Giri, kini dipenuhi tanaman merambat dengan buah berwarna hijau terang itu.
Harga anggur mencapai Rp 5.000 per kilogram. Hasil produksi anggur per 1 are (100 meter persegi), menurut Putu, masih sekitar 225 kilogram. ”Dahulu pernah mencapai 250 kilogram per are,” katanya.
Bahan ”wine”

Anggur muscat dan anggur alphonso merupakan bahan baku pembuatan minuman anggur (wine). Putu bersama sekitar 130 petani anggur di Gerokgak, Seririt, dan sekitarnya yang berhimpun dalam kelompok petani anggur Asteroid Vineyards menjadi pemasok buah anggur segar untuk PT Sababay Industry, perusahaan wine di Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali.

PT. Sababay Industry didirikan Mulyati Gozali tahun 2010 ini terbukti tidak sekadar membangun bisnis, tetapi juga mengembangkan misi agar petani dapat hidup layak dan mendapatkan hasil yang adil.

Pengawas Asteroid Vineyards, Lucky Parikesit, menambahkan, Sababay menjalankan prinsip kemitraan bersama petani anggur di Buleleng. Mereka juga mendukung petani melalui sarana produksi dan bibit.

”Penentuan harga, misalnya, dihitung bersama petani,” ungkap Lucky di Gerokgak, Buleleng, Minggu lalu.

Ketika harga jual anggur di pasar fluktuatif, Putu dan petani anggur mitra Sababay tenang-tenang saja karena anggur mereka mendapat harga stabil. Anggur produksi petani itu pun sudah pasti dibeli perusahaan itu.

”Astungkara (syukur), kami sudah tidak pikirkan pasar luar karena anggur kami sudah pasti dibeli perusahaan,” kata Putu.

”Kami petani tenang karena harga sudah jelas dan pembelinya pasti. Kami hanya berpikir agar produksi bertambah dan kualitas anggur kami lebih baik,” lanjutnya.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengatakan, wine lokal, khususnya dari Bali, sudah banyak diserap pasar pariwisata di Bali. PHRI Bali juga mendorong pengelola restoran dan bar di Bali menyediakan wine lokal selain wine impor.

”Harga wine lokal lebih murah dan produknya selalu tersedia. Sementara wine impor, selain mahal, juga perlu waktu lama untuk mendatangkannya,” ujar Oka. Dengan menyediakan wine lokal, katanya, PHRI turut mendukung penggunaan produk-produk nasional.

Pantas jikalau wajah Putu berseri. Tidak hanya karena anggur Buleleng kembali memberikan harapan masa depan cerah kepadanya dan keluarga serta petani anggur lain di Buleleng. Namun, derajat anggur Buleleng pun turut terangkat karena diproduksi sebagai minuman berkelas.

”Saya pernah mencicipi wine yang anggurnya berasal dari kebun kami. Saya merasa senang,” ujar Putu sambil tersenyum.

Sumber : D&A Associates

For futher information email : contact@smeindonesia.org

Comments

comments