Kisah Pemimpin Teladan Kulon Progo

Kisah Pemimpin Teladan Kulon Progo

Bela & Beli Kulonprogo

1049
Bpk. Hasto Wardoyo - Bupati Kulon Progo

SMEINDONESIA.org – Kisah dari Kulon progo adalah sebuah daerah yang tidak mendapat sorotan media, seperti Kota Besar Jakarta, Surabaya, atau Bandung tapi beberapa media local telah tergerak melihat sosok yang telah bekerja mengabdikan dirinya untuk daerahnya. Adalah Bupati Kulon progo, dengan nama Bapak Hasto Wardoyo barangkali belum pernah terdengar oleh viewers SMEINDONESIA karena Beliau tidaklah sepopular Bapak Ahok, Ibu Risma atau Kang Emil dari Bandung.

Hasto Wardoyo Yang jelas walau tanpa sorot media, Bapak Hasto Wardoyo, telah meletakkan spirit kemandirian sebuah bangsa. Ia mengajak warganya keluar dari kemiskinan, dengan kekuatan sendiri. Dan telah berhasil memberikan teladan kepada warganya.

Beliau telah memulai dengan gerakan “Bela dan Beli Kulon progo”. Yang antara lain adalah dengan mengeluarkan kebijakan yang mewajibkan Pelajar dan PNS di sana mengenakan seragam batik geblek renteng, batik khas Kulonprogo, pada hari tertentu.

Ternyata, kebijakan ini telah membawa 80.000 pelajardan 8.000 PNS, mampu mendongkrak industri batik lokal karena sentra kerajinan batik tumbuh pesat, dari cuma dua menjadi sekitar 50.

Dan ribuan Perajin batik dari Kulon progo yang biasanya bekerja di Yogyakarta, kini mereka bisa bekerja di Kulon progo. Uang ratusan miliar rupiah dari usaha kecil ini menjadi berputar di Kulon progo. Puryanto, adalah seorang pengusaha batik di desa Ngentarejo, mengaku bahwa omzetnya telah meningkat bahkan pernah hingga mencapai 500 persen.

bupati-kulon-progoBapak Hasto Wardoyo, yang menjabat Bupati sejak 2011, juga telah berusaha menjamin pendapatan petani lokal, dengan mewajibkan setiap PNS membeli beras produksi petani Kulonprogo, 10 kilogram per bulan. Bahkan beras raskin yang dikelola Bulog setempat, kini menggunakan beras produksi petani Kulon progo.

Sang Bupati yang juga dokter spesialis kandungan ini, membuat PDAM mengembangkan usahanya, dengan memproduksi air kemasan merk AirKu (Air Kulon progo). Selain menyumbangkan PAD, keberadaan air kemasan ini membangkitkan kebanggaan warga setempat dengan mengkonsumsi air produk sendiri. AirKu kini menguasai seperempat ceruk pasar air kemasan di Kulon progo.

PDAM setempat juga menyampaikan bahwa jumlah permintaan saat ini lebih besar dari produksi. Karena itu, volume produksi AirKu akan segera ditingkatkan.

Berbagai kebijakan lewat program Bela dan Beli, ternyata mampu menurunkan angka kemisikinan di Kulon progo, dari 22,54 persenpada 2013 menjadi 16,74 persen pada 2014 (data Bappeda).

Hal lainnya adalah, di sana – Kulon progo, anda tidak akan menemukan iklan rokok bertengger di media luar ruang, karena Pemerintah Kulon progo tidak memperbolehkan sponsor dari perusahaan rokok.

Memang kebijakan ini telah berdampak kepada pengurangan pendapatan Daerah. Namun, menurut Beliau memimpin daerah bukanlah hanya sekedar menggenjot pendapatan daerah menempatkan posisi moral yang memihak kepada kebaikan bagi rakyatnya adalah merupakan hak yang harus diperjuangkan, dalam hal ini Beliau berpihak kepada hak kesehatan bagi rakyatnya.

Bapak Hasto Wardoyo Bupati lulusan UGM ini juga memberlakukan Universal Coverage dalam pelayanan kesehatan, di mana Pemkab Kulon progo menanggung biaya kesehatan warganya sebesarRp 5 juta per-orang.

Untuk mengimbangi program Universal Coverage, RSUD Wates Kulon progo telah memberlakukan layanan tanpa kelas. Artinya, ketika kelas 3 penuh, pasien miskin bisa dirawat di kelas 2, kelas 1, bahkan VIP. Berbagai kebijakan yang berpihak kepada ‘hak rakyat banyak’ ini telah Beliau lakukan walau tanpa sorot media.

Bisa anda bayangkan jika kesadaran ini dimiliki oleh banyak Pemimpin Daerah di Indonesia?

Email : contact@smeindonesia.org

Comments

comments