Mampukah Pariwisata Indonesia Mengikuti Trend Pasar?

Mampukah Pariwisata Indonesia Mengikuti Trend Pasar?

By : Levie Lantu

831
levie lantu

SMEINDONESIA.org – Perubahan gaya hidup dan cepatnya sistem informasi, memberi perubahan yang besar terhadap behaviour traveller secara global. Perubahan ini memberi dampak yang besar terhadap Indonesia. Namun pertanyaan terbesar adalah apakah Indonesia mengerti perubahan yang sedang terjadi?

Dan terlebih mengertikah kita akan pola perilaku atau tabiat turis berwisata ke Indonesia yang dalam bahasa kerennya “Travel trend”, sehingga diharapkan Tourism Indonesia dan praktisi bisnis partnernya bisa mengikuti pergerakan ini yang sebenarnya digerakan oleh perubahan pelancong itu sendiri?

Fakta dilapangan para pelaku bisnis travel lebih untung kalau menjual out-bound ke negara lain ketimbang mengusahakan in-bound ke Indonesia. Ini sudah menjadi rahasia umum. Idealnya kalau in-bound dan out-bound bisa seimbang atau sama-sama bagus untungnya. Makanya tidak heran Indonesia menjadi sasaran empuk invasi NTO untuk membuka perwakilan nya di Jakarta dengan tujuan pasti meningkatkan out-bound ke Negara destinasi NTO yang bersangkutan.

Pola pengembangan bisnisnya jelas dan pasti alias memberi impact kepada peningkatan pax (jumlah turis) dan spending atau pembelanjaan di negara NTO. Indonesia menjadi Negara yang memiliki potensi besar sebagai pemberi devisa ke Negara-negara NTO lainnya, makanya Indonesia masuk menjadi target market berkategori “emeging market” singkatnya kalau tidak digarap maka NTO rugi sendiri.

Sah-sah saja mengejar out-bound ketimbang menjual destinasi Pariwisata Indonesia, pada faktanya menjual out-bound atau destinasi Pariwisata Luar Negeri memberi untung yang bagus buat travel agent out-bound Indonesia.

Pertanyaannya, apakah Pariwisata Indonesia bisa melakukan hal yang sama di negara-negara NTO ini? Untuk menghibur diri sangat sederhana, kalau NTO lain bisa sukses membangun Internasional marketnya di Indonesia, kenapa Pariwisata Indonesia tidak bisa?

Mari kita melihat negara-negara tetangga yang sudah bisa membawa turis diatas 20 millions setahun seperti negara kanguru. Mereka menerapkan integrasi approach dan fokus pada hal-hal penting yang memberi impact langsung ke pada pelaku bisnis travel (ITO) yang mengelola in-bound. Strategy pada people (manusia), system and process sangat jelas dan dapat dipertanggung-jawabkan.

Prioritas di pusatkan pada peningkatan penerbangan ke negaranya, loby partnership dan campaign yang memikat hati calon pelancong, campaign Public Relations yang mendukung misi penjualan di negara yang ditargetkan, loby dengan department imigrasi untuk kemudahan pemberian visa, termasuk pelatihan ke travel agent tentang process visa, sistem dan harganya.

Dan yang terpenting adalah empower lokal Travel agent untuk bisa fokus menjual destinasinya sepanjang tahun termasuk kerjasama dalam dukungan dana marketing dan pelatihan yang rutin kepada konsultan-konsultan yang menjual produk-produk ke negaranya baik secara langsung atau melalui online dan juga pengalaman langsung melalui “familirisation trip” yang rutin. Dengan strategi ini, siapa yang tidak mau menjual destinasi ini.

Tentunya dibutuhkan upaya yang besar dan keberanian untuk berubah kalau mau mencapai jumlah turis ke Indonesia yang dicanangkan. Negara tetangga kita ini pasti berjuang keras untuk mencapai targetnya karena itu benar-benar menghidupkan usaha kecil seperti restaurant, warung, pengusaha SME seperti pengrajin handy-craft, pom bensin, penjual kacang goreng (tentunya di kios-kios yang rapih dan bersih) dan ini langsung menggerakan ekonomi rakyat kecil.

Tidak usah disebut untungnya airline, hotel and Travel agent karena itu sudah menjadi core supportnya. Kalau rakyat kecil yang jualan kacang goreng bisa menyekolahkan anaknya ke universitas atau setingkat akademi karena penjualan kacang gorengnya di pantai, itu baru bisa terbukti kalau turism itu sustainable business.

Kalau itu dijadikan tolak ukur maka Negara Indonesia yang kaya raya ini telah berhasil meng-empower generasi penerusnya. Mungkin mimpi si penjual kacang goreng, kalau penjualan kacang gorengnya bisa di order online sebelum turis datang ke pantai itu karena anaknya sudah bisa buat “online order” dan mungkin dalam 5 bahasa asing utama walau free visa sudah 60 negara.

Tidak ada “rocket science” di bisnis turism ini karena yang dijual adalah pengalaman dan barangnya dalam bentuk pelayanan dan hanya bisa dilihat, dirasakan dan dipegang sesudah tiba di negara tujuan. Namun implikasi pelipatgandaan keberhasilanya terjadi kalau itu dilakukan secara integrasi sebagai “cycle of experience” dimana semua unsur penggerak wisata bekerja bersama-sama dengan empower dari pemerintah yang dana nya dari pajak rakyat untuk mensejahterakan rakyat Indonesia yang memiliki pesona tiada duanya melalui sektor pariwisata.

Kalau begitu, untuk sekedar direnungkan, mau dibawa kemana masa depan Pariwisata Indonesia ?

Profile penulis : Levie Lantu; Pelaku bisnis pariwisata selama 20 tahun termasuk International Hotel Chains & Convention Center di dalam maupun di luar negeri, Airlines, wholesales Travel agent, Retail & Corporate Travel Agents, Travel & Life style Magazine, Duty Free Shop dan Tourism Board. Sekarang menetap di Australia dan fokus menjual in-bound and out-bound ke dan dari Indonesia.

Comments

comments